Selasa, 22 Oktober 2013

Membaca Takbir Sesudah Shalat Fardhu & Lafadznya?

Soal: Kapan takbir sesudah shalat pada Iedul Adha dimulai? Mana yang benar, Allahu Akbar-nya dua kali atau tiga kali?
Bapak Endro
Jawab:
Al-Hamdulillah, segala puji milik Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam teruntuk Rasulullah –Shallallahu 'Alaihi Wasallam-, keluarga dan para sahabatnya.
Takbir pada bulan Dzulhijjah terbagi dua macam; Takbir Mutlak dan Takbir Muqayyad. Takbir Mutlak (takbir yang dibaca tanpa diikat tempat dan kegiatan tertentu) disyariatkan untuk dikumandangkan sejak awal Dzulhijjah sampai hari-hari Ied (hari tasyriq). Takbir ini dikumandangkan di jalan-jalan dan di pasar-pasar, di Mina, dan di tempat-tempat lainnya.
Sedangkan Takbir Muqayyad (terikat) adalah takbir yang dibaca sesudah shalat lima waktu, lebih khusus lagi pada shalat berjama’ah, sebagaimana yang disyaratkan oleh mayoritas fuqaha’.
Takbir ini dimulai sejak fajar hari ‘Arafah sampai shalat Ashar di hari raya keempat (hari Tasyriq terakhir/13 Dzulhijjah). Total semuanya sebanyak dua puluh tiga shalat. Ini didasarkan kepada hadits Nabi Shallallaahu 'Alaihi Wasallam dan sejumlah sahabat ridwanullah ‘alaihim. (Kitab Ma’mu’ Fatawa wa Maqalat Mutanawwi’ah, Syaikh Abdul Aziz bin Bazz, 13/17). Dan takbir ini hanya berlaku bagi selain jama’ah haji.
Takbir ini dibaca sesudah salam (seusai shalat). Tepatnya sesudah membaca istighfar tiga kali dan Allahumma Antas Salaam waminkas salaam Tabaarakta Yaa Dzal Jalaali Walikraam.
Lafadz Takbir
Perintah takbir datang dengan umum, tanpa ada keterangan redaksinya secara khusus dari Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam. Kemudian para sahabatnya mempraktekkanya sesuai dengan apa yang mereka pahami. Di antaranya bentunya:
Pertama: diriwayatkan dari Ibnu Mas’ud dengan dua takbir di depannya:       
اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ، لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ، وَاللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ ، وَلِلَّهِ الْحَمْدُ
Allahu Akbar, Allahu Akbar . . . Laa Ilaaha Illallah . . .Wallahu Akbar . . . Allahu Akbar . .  Walillahil Hamd.
Kedua: dengan tiga takbir diawalnya:
اَللهُ أَكْبَرُ . . اَللهُ أَكْبَرُ . . اَللهُ أَكْبَرُ . . لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ ، اَللهُ أَكْبَرُ . . اَللهُ أَكْبَرُ . . اَللهُ أَكْبَرُ . . وَلِلَّهِ الْحَمْدُ
Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar . . . Laa Ilaaha Illallah . . .Wallahu Akbar . . . Allahu Akbar . .  Walillahil Hamd.
Ketiga, yang diriwayatkan dari Salman Radliyallah 'Anhu,
اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ كَبِيْرًا
Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, Kabiira
Masalah ini sangat luas karena tidak ada nash dari Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam yang menetapkan bentuk tertentu. Karenanya, membaca takbir diawalnya dua atau tiga kali benar semua. Wallahu A’lam. [Badrul Tamam/PurWD/voa-islam.com]


Hikmah perjalanan mualaf Filipina Jane mengakui kebenaran Islam

Ahad, 16 Zulhijjah 1434 H / 20 Oktober 2013 18:30

Hikmah perjalanan mualaf Filipina Jane mengakui kebenaran Islam
Jane
Jane (21) adalah seorang mualaf Filipina yang mengucap syahadat pertamanya ketika ia berusia 19 tahun. Setelah memeluk Islam, gadis yang berasal dari keluarga Kristen ini mengubah namanya menjadi Imaan.
Imaan belum pernah mendengar tentang Islam sebelumnya. Perjalanannya dalam mencari kebenaran pun diwarnai pertentangan dari keluarga dan teman-temannya. Namun semua itu tiada berarti baginya bila dibandingkan dengan bukti-bukti kebesaran Allah Subhanahu wa Ta’ala yang ia terima.
Ia memaparkan bagaimana hatinya tergetar kala ia mendengar suara azan untuk pertama kalinya padahal ia tengah melaksanakan misa di gereja. Hingga puncaknya, ia mengalami pengalaman spiritual yang luar biasa, sebuah pengalaman yang akhirnya memantapkan hatinya untuk mengakui bahwa tiada tuhan selain Allah dan Muhammad Shalallahu Alayhi wa Sallam adalah utusan Allah.
Berikut pemaparan lengkap Imaan mengenai perjalanan rohaninya yang mengharukan dan penuh hikmah luar biasa dalam menemukan kebenaran Islam, seperti dikutip page Islam, Youth Group.
Saya dan saudara-saudara saya dibesarkan dalam keluarga Kristen oleh orang tua kami. Kami selalu menghadiri misa di gereja setiap hari Minggu. Orang tua saya memasukkan saya ke sekolah dan universitas Katolik.
Pada waktu itu saya belajar banyak tentang agama Kristen, tapi begitu banyak pertanyaan dalam pikiran saya yang tidak pernah terjawab baik oleh orang tua saya maupun oleh profesor-profesor saya.
Dulu saya sering bertanya-tanya pada diri sendiri, terutama ketika kami sedang berada di gereja dan berdoa. Saya merasa begitu bingung. Saya merasa seperti ada sesuatu yang tidak benar dan saya harus menemukannya.
Suatu hari saya melihat seorang Muslimah bercadar di sebuah toko saat membeli beberapa buku. Tiba-tiba pandangan kami saling bertemu, saya menatap matanya. Pada saat itu saya merasa seperti dia adalah wanita paling cantik yang pernah saya lihat di sepanjang hidup saya. Waktu itu saya benar-benar belum tahu bahwa orang seperti dia adalah seorang Muslim. Kala itu saya masih menyebut orang-orang seperti dia dengan sebutan “ninja”.
Saat sampai di rumah, saya bertanya kepada semua bibi saya, sepupu dan beberapa teman saya mengenai mengapa ada orang yang memakai cadar, mengapa mereka menyembunyikan wajah mereka, mengapa dan mengapa dan mengapa, tapi tidak ada yang bisa menjawabnya.
Orang-orang yang saya tanya itu malah mengklaim bahwa “mereka adalah teroris”, “mereka membunuh orang-orang yang tidak bersalah”, dan sebagainya.
Saya memang tidak pernah tahu tentang Muslim dan Islam sebelumnya. Saya mendengar dari media bahwa kebanyakan dari mereka adalah teroris dan keluarga saya percaya pada apa yang mereka dengar di media. Namun saya mengabaikannya, karena saat itu saya tidak menilai orang dari agama mereka.
Ketika saya berusia 18 tahun. Saya mulai mempelajari agama-agama lain. Saya tidak pernah menyerah mencari jawaban. Orang-orang di sekitar saya, terutama orang tua saya, tampaknya merasa terganggu dengan pertanyaan-pertanyaan saya. Saya merasa seperti … tidak ada yang memahami saya.
Setahun kemudian, keluarga kami pergi ke sebuah tempat Islami di mana 60 % orang-orang di sana adalah Muslim, tapi saya tidak punya kesempatan untuk berteman dengan mereka pada saat itu karena saya merasa saya bukanlah seorang yang mudah bergaul dan saya merasa sangat malu.
Sekitar pukul enam sore kami pergi ke gereja untuk mengikuti misa bersama dengan seluruh keluarga kami. Saat itu tanggal 2 November, saya sedang berdiri di salah satu sudut gereja, kemudian tiba-tiba saya mendengar suara azan untuk pertama kalinya dalam hidup saya. Saya sangat kagum, dan saya merasa seperti azan itu memanggil saya, dan tubuh saya ingin berjalan menuju ke sumber suara azan itu.
Saya tidak mengikuti misa sampai akhir. Saya kemudian menatap langit dan pada saat itu saya merasakan perasaan terbaik yang pernah saya rasakan dalam hidup saya.
Ketika kami kembali ke kota kami, saya mulai mempelajari Islam dan dari sana saya memutuskan untuk mengucap syahadat sendirian di kamar saya. Alhamdulillah Allah memudahkan saya dengan internet di mana saya bisa belajar dari situs-situs Islam mengenai bagimana tata cara shalat.
Saya terus mempelajari dan menonton [tata cara shalat] secara keseluruhan. Kemudian saya mencoba untuk menjalankan shalat untuk pertama kalinya. Saat itu betapa terkejutnya saya hingga saya terus menangis, karena tiba-tiba bibir saya bisa mengucapkan bacaan-bacaan shalat dengan lancar.  Do’a berbahasa Arab itu meluncur begitu saja dari mulut saya. Hal luar biasa ini benar-benar mendatangkan perubahan mendadak dalam hidup saya.
Saya menghentikan semua kebiasaan buruk yang saya lakukan, nongkrong larut malam dengan teman-teman, minum alkohol dan merokok. Orang-orang di sekitar saya mengatakan saya gila seperti seorang psikopat.
Setiap kali saya menunaikan ibadah shalat, mereka terus menertawakan saya. Teman-teman saya mengatakan saya tidak keren karena saya tidak lagi “sejalan” dengan mereka.
Saya menjalankan puasa sendirian di rumah kami selama Ramadhan dan merasa kesepian saat merayakan Idul Fitri. Tapi saya masih bersyukur, Alhamdulillah. Shalat dan membaca Al-Qur’an membuat saya merasa saya tidak sendirian sama sekali.
Saya akui, saya selalu mengajukan pertanyaan kepada saudara-saudara saya dalam Islam dan mungkin membuat mereka sedikit kesal. Saya meminta kepada Allah untuk membantu saya, untuk menjawab pertanyaan saya. Subhanallah! Setiap kali saya membuka dan membaca Al-Qur’an saya mendapatkan jawaban-Nya.
Sebagian besar orang yang saya kenal terus mengatakan “Kau gila”, “Kau tidak berpikir”, dan sebagainya. Namun saya hanya menghadapi semua itu dengan tersenyum sambil mengingat-ingat firman Allah yang saya baca dari Al-Qur’an.
Allah menuntun siapa saja yang Dia kehendaki untuk menuju jalan yang lurus. Bukan saya yang memilih Islam, tetapi Allah-lah yang memilih saya. (banan/arrahmah.com)
- See more at: http://www.arrahmah.com/news/2013/10/20/hikmah-perjalanan-mualaf-filipina-jane-mengakui-kebenaran-islam.html#sthash.oEgha6yl.dpuf


Hikmah perjalanan mualaf Filipina Jane mengakui kebenaran Islam

Ahad, 16 Zulhijjah 1434 H / 20 Oktober 2013 18:30

Hikmah perjalanan mualaf Filipina Jane mengakui kebenaran Islam
Jane
Jane (21) adalah seorang mualaf Filipina yang mengucap syahadat pertamanya ketika ia berusia 19 tahun. Setelah memeluk Islam, gadis yang berasal dari keluarga Kristen ini mengubah namanya menjadi Imaan.
Imaan belum pernah mendengar tentang Islam sebelumnya. Perjalanannya dalam mencari kebenaran pun diwarnai pertentangan dari keluarga dan teman-temannya. Namun semua itu tiada berarti baginya bila dibandingkan dengan bukti-bukti kebesaran Allah Subhanahu wa Ta’ala yang ia terima.
Ia memaparkan bagaimana hatinya tergetar kala ia mendengar suara azan untuk pertama kalinya padahal ia tengah melaksanakan misa di gereja. Hingga puncaknya, ia mengalami pengalaman spiritual yang luar biasa, sebuah pengalaman yang akhirnya memantapkan hatinya untuk mengakui bahwa tiada tuhan selain Allah dan Muhammad Shalallahu Alayhi wa Sallam adalah utusan Allah.
Berikut pemaparan lengkap Imaan mengenai perjalanan rohaninya yang mengharukan dan penuh hikmah luar biasa dalam menemukan kebenaran Islam, seperti dikutip page Islam, Youth Group.
Saya dan saudara-saudara saya dibesarkan dalam keluarga Kristen oleh orang tua kami. Kami selalu menghadiri misa di gereja setiap hari Minggu. Orang tua saya memasukkan saya ke sekolah dan universitas Katolik.
Pada waktu itu saya belajar banyak tentang agama Kristen, tapi begitu banyak pertanyaan dalam pikiran saya yang tidak pernah terjawab baik oleh orang tua saya maupun oleh profesor-profesor saya.
Dulu saya sering bertanya-tanya pada diri sendiri, terutama ketika kami sedang berada di gereja dan berdoa. Saya merasa begitu bingung. Saya merasa seperti ada sesuatu yang tidak benar dan saya harus menemukannya.
Suatu hari saya melihat seorang Muslimah bercadar di sebuah toko saat membeli beberapa buku. Tiba-tiba pandangan kami saling bertemu, saya menatap matanya. Pada saat itu saya merasa seperti dia adalah wanita paling cantik yang pernah saya lihat di sepanjang hidup saya. Waktu itu saya benar-benar belum tahu bahwa orang seperti dia adalah seorang Muslim. Kala itu saya masih menyebut orang-orang seperti dia dengan sebutan “ninja”.
Saat sampai di rumah, saya bertanya kepada semua bibi saya, sepupu dan beberapa teman saya mengenai mengapa ada orang yang memakai cadar, mengapa mereka menyembunyikan wajah mereka, mengapa dan mengapa dan mengapa, tapi tidak ada yang bisa menjawabnya.
Orang-orang yang saya tanya itu malah mengklaim bahwa “mereka adalah teroris”, “mereka membunuh orang-orang yang tidak bersalah”, dan sebagainya.
Saya memang tidak pernah tahu tentang Muslim dan Islam sebelumnya. Saya mendengar dari media bahwa kebanyakan dari mereka adalah teroris dan keluarga saya percaya pada apa yang mereka dengar di media. Namun saya mengabaikannya, karena saat itu saya tidak menilai orang dari agama mereka.
Ketika saya berusia 18 tahun. Saya mulai mempelajari agama-agama lain. Saya tidak pernah menyerah mencari jawaban. Orang-orang di sekitar saya, terutama orang tua saya, tampaknya merasa terganggu dengan pertanyaan-pertanyaan saya. Saya merasa seperti … tidak ada yang memahami saya.
Setahun kemudian, keluarga kami pergi ke sebuah tempat Islami di mana 60 % orang-orang di sana adalah Muslim, tapi saya tidak punya kesempatan untuk berteman dengan mereka pada saat itu karena saya merasa saya bukanlah seorang yang mudah bergaul dan saya merasa sangat malu.
Sekitar pukul enam sore kami pergi ke gereja untuk mengikuti misa bersama dengan seluruh keluarga kami. Saat itu tanggal 2 November, saya sedang berdiri di salah satu sudut gereja, kemudian tiba-tiba saya mendengar suara azan untuk pertama kalinya dalam hidup saya. Saya sangat kagum, dan saya merasa seperti azan itu memanggil saya, dan tubuh saya ingin berjalan menuju ke sumber suara azan itu.
Saya tidak mengikuti misa sampai akhir. Saya kemudian menatap langit dan pada saat itu saya merasakan perasaan terbaik yang pernah saya rasakan dalam hidup saya.
Ketika kami kembali ke kota kami, saya mulai mempelajari Islam dan dari sana saya memutuskan untuk mengucap syahadat sendirian di kamar saya. Alhamdulillah Allah memudahkan saya dengan internet di mana saya bisa belajar dari situs-situs Islam mengenai bagimana tata cara shalat.
Saya terus mempelajari dan menonton [tata cara shalat] secara keseluruhan. Kemudian saya mencoba untuk menjalankan shalat untuk pertama kalinya. Saat itu betapa terkejutnya saya hingga saya terus menangis, karena tiba-tiba bibir saya bisa mengucapkan bacaan-bacaan shalat dengan lancar.  Do’a berbahasa Arab itu meluncur begitu saja dari mulut saya. Hal luar biasa ini benar-benar mendatangkan perubahan mendadak dalam hidup saya.
Saya menghentikan semua kebiasaan buruk yang saya lakukan, nongkrong larut malam dengan teman-teman, minum alkohol dan merokok. Orang-orang di sekitar saya mengatakan saya gila seperti seorang psikopat.
Setiap kali saya menunaikan ibadah shalat, mereka terus menertawakan saya. Teman-teman saya mengatakan saya tidak keren karena saya tidak lagi “sejalan” dengan mereka.
Saya menjalankan puasa sendirian di rumah kami selama Ramadhan dan merasa kesepian saat merayakan Idul Fitri. Tapi saya masih bersyukur, Alhamdulillah. Shalat dan membaca Al-Qur’an membuat saya merasa saya tidak sendirian sama sekali.
Saya akui, saya selalu mengajukan pertanyaan kepada saudara-saudara saya dalam Islam dan mungkin membuat mereka sedikit kesal. Saya meminta kepada Allah untuk membantu saya, untuk menjawab pertanyaan saya. Subhanallah! Setiap kali saya membuka dan membaca Al-Qur’an saya mendapatkan jawaban-Nya.
Sebagian besar orang yang saya kenal terus mengatakan “Kau gila”, “Kau tidak berpikir”, dan sebagainya. Namun saya hanya menghadapi semua itu dengan tersenyum sambil mengingat-ingat firman Allah yang saya baca dari Al-Qur’an.
Allah menuntun siapa saja yang Dia kehendaki untuk menuju jalan yang lurus. Bukan saya yang memilih Islam, tetapi Allah-lah yang memilih saya. (banan/arrahmah.com)
- See more at: http://www.arrahmah.com/news/2013/10/20/hikmah-perjalanan-mualaf-filipina-jane-mengakui-kebenaran-islam.html#sthash.oEgha6yl.dpuf


Hikmah perjalanan mualaf Filipina Jane mengakui kebenaran Islam

Ahad, 16 Zulhijjah 1434 H / 20 Oktober 2013 18:30

Hikmah perjalanan mualaf Filipina Jane mengakui kebenaran Islam
Jane
Jane (21) adalah seorang mualaf Filipina yang mengucap syahadat pertamanya ketika ia berusia 19 tahun. Setelah memeluk Islam, gadis yang berasal dari keluarga Kristen ini mengubah namanya menjadi Imaan.
Imaan belum pernah mendengar tentang Islam sebelumnya. Perjalanannya dalam mencari kebenaran pun diwarnai pertentangan dari keluarga dan teman-temannya. Namun semua itu tiada berarti baginya bila dibandingkan dengan bukti-bukti kebesaran Allah Subhanahu wa Ta’ala yang ia terima.
Ia memaparkan bagaimana hatinya tergetar kala ia mendengar suara azan untuk pertama kalinya padahal ia tengah melaksanakan misa di gereja. Hingga puncaknya, ia mengalami pengalaman spiritual yang luar biasa, sebuah pengalaman yang akhirnya memantapkan hatinya untuk mengakui bahwa tiada tuhan selain Allah dan Muhammad Shalallahu Alayhi wa Sallam adalah utusan Allah.
Berikut pemaparan lengkap Imaan mengenai perjalanan rohaninya yang mengharukan dan penuh hikmah luar biasa dalam menemukan kebenaran Islam, seperti dikutip page Islam, Youth Group.
Saya dan saudara-saudara saya dibesarkan dalam keluarga Kristen oleh orang tua kami. Kami selalu menghadiri misa di gereja setiap hari Minggu. Orang tua saya memasukkan saya ke sekolah dan universitas Katolik.
Pada waktu itu saya belajar banyak tentang agama Kristen, tapi begitu banyak pertanyaan dalam pikiran saya yang tidak pernah terjawab baik oleh orang tua saya maupun oleh profesor-profesor saya.
Dulu saya sering bertanya-tanya pada diri sendiri, terutama ketika kami sedang berada di gereja dan berdoa. Saya merasa begitu bingung. Saya merasa seperti ada sesuatu yang tidak benar dan saya harus menemukannya.
Suatu hari saya melihat seorang Muslimah bercadar di sebuah toko saat membeli beberapa buku. Tiba-tiba pandangan kami saling bertemu, saya menatap matanya. Pada saat itu saya merasa seperti dia adalah wanita paling cantik yang pernah saya lihat di sepanjang hidup saya. Waktu itu saya benar-benar belum tahu bahwa orang seperti dia adalah seorang Muslim. Kala itu saya masih menyebut orang-orang seperti dia dengan sebutan “ninja”.
Saat sampai di rumah, saya bertanya kepada semua bibi saya, sepupu dan beberapa teman saya mengenai mengapa ada orang yang memakai cadar, mengapa mereka menyembunyikan wajah mereka, mengapa dan mengapa dan mengapa, tapi tidak ada yang bisa menjawabnya.
Orang-orang yang saya tanya itu malah mengklaim bahwa “mereka adalah teroris”, “mereka membunuh orang-orang yang tidak bersalah”, dan sebagainya.
Saya memang tidak pernah tahu tentang Muslim dan Islam sebelumnya. Saya mendengar dari media bahwa kebanyakan dari mereka adalah teroris dan keluarga saya percaya pada apa yang mereka dengar di media. Namun saya mengabaikannya, karena saat itu saya tidak menilai orang dari agama mereka.
Ketika saya berusia 18 tahun. Saya mulai mempelajari agama-agama lain. Saya tidak pernah menyerah mencari jawaban. Orang-orang di sekitar saya, terutama orang tua saya, tampaknya merasa terganggu dengan pertanyaan-pertanyaan saya. Saya merasa seperti … tidak ada yang memahami saya.
Setahun kemudian, keluarga kami pergi ke sebuah tempat Islami di mana 60 % orang-orang di sana adalah Muslim, tapi saya tidak punya kesempatan untuk berteman dengan mereka pada saat itu karena saya merasa saya bukanlah seorang yang mudah bergaul dan saya merasa sangat malu.
Sekitar pukul enam sore kami pergi ke gereja untuk mengikuti misa bersama dengan seluruh keluarga kami. Saat itu tanggal 2 November, saya sedang berdiri di salah satu sudut gereja, kemudian tiba-tiba saya mendengar suara azan untuk pertama kalinya dalam hidup saya. Saya sangat kagum, dan saya merasa seperti azan itu memanggil saya, dan tubuh saya ingin berjalan menuju ke sumber suara azan itu.
Saya tidak mengikuti misa sampai akhir. Saya kemudian menatap langit dan pada saat itu saya merasakan perasaan terbaik yang pernah saya rasakan dalam hidup saya.
Ketika kami kembali ke kota kami, saya mulai mempelajari Islam dan dari sana saya memutuskan untuk mengucap syahadat sendirian di kamar saya. Alhamdulillah Allah memudahkan saya dengan internet di mana saya bisa belajar dari situs-situs Islam mengenai bagimana tata cara shalat.
Saya terus mempelajari dan menonton [tata cara shalat] secara keseluruhan. Kemudian saya mencoba untuk menjalankan shalat untuk pertama kalinya. Saat itu betapa terkejutnya saya hingga saya terus menangis, karena tiba-tiba bibir saya bisa mengucapkan bacaan-bacaan shalat dengan lancar.  Do’a berbahasa Arab itu meluncur begitu saja dari mulut saya. Hal luar biasa ini benar-benar mendatangkan perubahan mendadak dalam hidup saya.
Saya menghentikan semua kebiasaan buruk yang saya lakukan, nongkrong larut malam dengan teman-teman, minum alkohol dan merokok. Orang-orang di sekitar saya mengatakan saya gila seperti seorang psikopat.
Setiap kali saya menunaikan ibadah shalat, mereka terus menertawakan saya. Teman-teman saya mengatakan saya tidak keren karena saya tidak lagi “sejalan” dengan mereka.
Saya menjalankan puasa sendirian di rumah kami selama Ramadhan dan merasa kesepian saat merayakan Idul Fitri. Tapi saya masih bersyukur, Alhamdulillah. Shalat dan membaca Al-Qur’an membuat saya merasa saya tidak sendirian sama sekali.
Saya akui, saya selalu mengajukan pertanyaan kepada saudara-saudara saya dalam Islam dan mungkin membuat mereka sedikit kesal. Saya meminta kepada Allah untuk membantu saya, untuk menjawab pertanyaan saya. Subhanallah! Setiap kali saya membuka dan membaca Al-Qur’an saya mendapatkan jawaban-Nya.
Sebagian besar orang yang saya kenal terus mengatakan “Kau gila”, “Kau tidak berpikir”, dan sebagainya. Namun saya hanya menghadapi semua itu dengan tersenyum sambil mengingat-ingat firman Allah yang saya baca dari Al-Qur’an.
Allah menuntun siapa saja yang Dia kehendaki untuk menuju jalan yang lurus. Bukan saya yang memilih Islam, tetapi Allah-lah yang memilih saya. (banan/arrahmah.com)
- See more at: http://www.arrahmah.com/news/2013/10/20/hikmah-perjalanan-mualaf-filipina-jane-mengakui-kebenaran-islam.html#sthash.oEgha6yl.dpuf

Selasa, 15 Oktober 2013

Puasa Arafah didasarkan Wukuf atau Hari Arafah?

Puasa Arafah adalah puasa sunnah yang dilakukan pada hari Arafah. Keutamaan puasa ini berdasarkan hadits Nabi SAW dari Abu Qatadah Al-Anshariy, berkata :

وَسُئِلَ عَنْ صَوْمِ يَوْمِ عَرَفَةَ فَقَالَ يُكَفِّرُ السَّنَةَ الْمَاضِيَةَ وَالْبَاقِيَةَ
Artinya : Sesungguhnya Rasulullah SAW pernah ditanya tentang (keutamaan) puasa pada hari Arafah?” Maka beliau menjawab, “ Menghapuskan (kesalahan) tahun yang lalu dan yang sesudahnya.” (HR. Muslim)1

Apakah hari Arafah didasarkan atas penetapan pemerintah Saudi Arabia, terkait dengan pelaksanaan wukuf di Arafah, ataukah berdasarkan ketetapan daerah setempat?
Jawabnya adalah kesunnahan puasa Arafah bukan didasarkan adanya wukuf, tetapi karena datangnya hari Arafah tanggal 9 Dzulhijjah. Maka bisa jadi hari Arafah di Indonesia berbeda dengan di Saudi Arabia. Toleransi terhadap adanya perbedaan ini didasarkan atas hadits Kuraib, beliau berkata :

اَنَّ اُمَّ الْفَضْلِ بِنْتَ الْحَارِثِ بَعَثَتْهُ اِلَى مُعَاوِيَةَ باِلشَّامِ قاَلَ كُرَيْبٌ: فَقَدِمْتُ الشَّامَ فَقَضَيْتُ حَاجَتَهَا وَاسْتُهِلَّ عَلَيَّ رَمَضَانُ وَاَنَا باِلشَّامِ فَرَاَيْتُ الْهِلاَلَ لَيْلَةَ الْجُمْعَةِ ثُمَّ قَدِمْتُ الْمَدِيْنَةَ فِيْ اَخِرِ الشَّهْرِ فَسَأَلَنِي عَبْدُ اللهِ بْنُ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا ثُمَّ ذَكَرَ الْهِلاَلَ فَقَالَ: مَتىَ رَأَيْتُمُ الْهِلاَلَ؟ فَقُلْتُ: رَاَيْنَاهُ لَيْلَةَ الْجُمْعَةِ فَقَالَ: اَنْتَ رَاَيْتَهُ؟ فَقُلْتُ: نَعَمْ وَرَآهُ النَّاسُ وَصَامُوْا وَصَامَ مُعَاوِيَةُ فَقَالَ: لَكِنَّا رَاَيْنَاهُ لَيْلَةَ السَّبْتِ فَلاَ نَزَالُ نَصُوْمُ حَتىَّ نُكْمِلَ الثَّلاَثِيْنَ اَوْ نَرَاهُ فَقُلْتُ: اَوَ لاَ تَكْتَفِي بِرُؤْيَةِ مُعَاوِيَةَ وَ صِيَامِهِ؟ فَقَالَ: لاَ هَكَذَا اَمَرَنَا رَسُوْلُ اللهِ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ
Artinya : Sesungguhnya Ummul Fadl binti al-Harits mengutus Kuraib menemui Mu’awiyah di Syam. Kuraib berkata: Aku tiba di Syam. Lalu aku tunaikan keperluan Ummul Fadl. Dan terlihatlah hilal bulan Ramadlan olehku, sedang aku masih berada di Syam. Aku melihat hilal pada malam Jum’at. Kemudian aku tiba di Madinah di akhir bulan Ramadlan. Abdullah bin Abbas bertanya kepadaku, dan ia menyebut hilal. Ia berkata: “Kapan kamu melihat hilal?” Aku berkata: “Malam Jum’at.” Dia bertanya: “Apakah kamu sendiri melihatnya?” Aku menjawab: “Ya, dan orang-orang juga melihatnya. Mereka berpuasa, demikian juga Mu’awiyah.” Dia berkata: “Tetapi kami melihat hilal pada malam Sabtu, maka kami tetap berpuasa sehingga kami sempurnakan 30 hari atau kami melihat hilal”. Aku bertanya: “Apakah kamu tidak cukup mengikuti rukyah Mu’awiyah dan puasanya?” Lalu dia menjawab: “Tidak, demikianlah Rasulullah SAW menyuruh kami (HR. Muslim)2

Seandainya waktu puasa Arafah di dunia ini harus mengikuti waktu wuquf di Arafah yang dilakukan di Makah, maka ini akan timbul konsekwensi yang tidak ada satupun umat Islam berpendapat demikan. Misalnya kalau puasa di sebuah negeri yang perbedaan waktu antara negeri itu dan Makah mencapai dua belas jam, ini tentunya kalau siang di Makah, maka di negeri tersebut dalam keadaan malam. Maka apakah penduduk muslim negeri tersebut harus puasa pada`malam itu, bukan siangnya ? Karena mengikuti waktu wukuf di Arafah yang sedang dilaksanakan di Makah. Tentu tidak ada ulama yang berpendapat seperti ini. Dengan memahami logika ini, maka kita harus menjelaskan bahwa puasa Arafah tidak berhubungan dengan adanya wukuf, tetapi karena datangnya hari Arafah tanggal 9 Dzulhijjah. Maka bisa jadi hari Arafah di Indonesia berbeda dengan di Saudi Arabia.

DAFTAR PUSTAKA
1.Imam Muslim, Shahih Muslim, Maktabah Dahlan, Indonesia, Juz. III, Hal. 167, No. Hadits : 2804
2.Imam Muslim, Shahih Muslim, Maktabah Dahlan, Indonesia, Juz. II, Hal. 765, No. Hadits : 1087